Sudah jatuh tertimpa tangga, sepertinya pepatah ini cocok untuk suatu anekdote berikut ini. Seorang ibu yang sedang membersihkan halaman berteriak kepada anaknya yang masih seusia prasekolah :"awas, jangan naik, nanti jatuh". Sementara anaknya yang sedang berusaha menaiki pagar halaman rumah ibu itu, tak menghiraukan teriakan sang Ibu, meskipun teriakan itu telah diulangnya beberapa kali. Namun tak berselang lama, terdengar bunyi: "gdebuuk....". Sang ibu kaget sambil menoleh ke arah bunyi, lalu berkata, kan sudah ibu bilang (dengan suara tinggi), jangan naik, kan jatuh...Ibu itu lari mendekati anak yang sudah jatuh terjerambab di bawah pagar sambil meringis kesakitan, dengan sepotong kayu di tangan, ibu itu mendekati anaknya, dan langsung memukulkan kayu itu ke pantat anaknya, sambil berkata,: " nih ibu tambahi sakitnya, biar jera, dasar anak bandel, tidak mau nurut sama orang tua" Aduh....... sakit ma.... ampun....., anaknya teriak kesakitan.
Begitulah... anak sudah sakit, bukan ditolong tetapi malah disakiti lagi dengan pukulan kayu. Sudah jatuh, dipukul kayu pula. Kejadian sejenis ini sudah sering dialami anak, bukan hanya dalam kasus fisik semacam itu, juga kasus psikologis lebih sering lagi. Misalnya, anak yang sedih karena nilai ulangannya jatuh, sesampai di rumah didamprat habis-habisan, dengan mengungkit berbagai kesalahan dan kelemahan anak lainya. Anak yang baru terpukul karena hpnya hilang, di maki-maki orangtuanya karena dianggap ceroboh dan lain sebagainya. Sungguh, hal semacam ini dianggap biasa oleh orangtuanya, terutama bagi orang tua yang kurang memahami aspek psikologis dalam pendidikan anak. Atau mungkin juga karena orangtuanya belum mampu mengendalikan emosinya. Anak menjadi sasaran kemarahan atau kejengkelan orangtua. Hati anak terluka, anak "dipaksa" membangun kebencian terselubung kepada orangtuanya sendiri.
Dengan pemahaman psikologi secara sederhana, kita sebagai orangtua seyogyanya menghindari perlakuan terhadap anak yang mengandung 3 M, yaitu : memaksa, mengancam, dan menghina, anak. Bila orangtua sering memaksa anak, misalnya memaksa belajar, memaksa makan, memaksa mandi dan lain sebagainya, bukan saja anak menjadi jengkel, sebel, kadang-kadang menimbulkan perilaku perlawanan, membantah, dan lain sebagainya, juga justru membuat anak semakin jauh dari kesadaran. Karena kesadaran tak akan pernah muncul kalau dipaksa dari luar. Kesadaran itu ada di dalam diri anak, maka pemunculannya, atau lebih tepat, pendorong tumbuhnya kesadaran itu harus dari dalam diri anak itu juga. Memang tidak semua anak bisa tumbuh kesadaran tanpa dipaksa. Iya, memang, harus ada aspek psikologis "pemaksa" tetapi pengolahannya harus dari dalam, bukan dipaksa dari luar (orangtuanya). Lalu bagaimana ? Salah satu strateginya adalah bahwa kita harus membiasakan berdialog dengan anak, dan mengorientasikan isi dialog itu ke perilaku yang kita ingin anak melakukannya, dengan dasar keinginannya sendiri tanpa disuruh oleh orangtua secara langsung. Dengan kata lain, orangtua semakin mengurangi menyuruh anak melakukan seseuatu, tetapi berdialog dengan anak agar anak melakukan sesuatu "sendiri" tanpa merasa disuruh. Sangat disadari strategi ini tidak selalu mudah, perlu kesabaran dan ketekunan, dan selalu belajar dari perilaku anak itu sendiri. Selanjutnya, M yang kedua yang sering dilakukan orangtua adalah mengancam. "Awas kalau sampai gagal, nanti ibu potong uang belanaja sekolah". Ancaman semacam ini tentunya dimaksudkan untuk memberi motivasi agar anak berusaha lebih keras, namun bila ditinjau dari perkembangan psikologis anak, ternyata ancaman itu bukan saja tidak efektif menimbulkan motivasi yang hakiki, malah justru menimbulkan dampak psikis yang negatif, seperti anak merasa tertekan, menjadi penakut, rendah diri, bahkan bisa berdampak negatif pada ingatan dan daya konsentrasinya. Jadi, ancaman bukanlah cara yang baik dalam memotivasi anak. Gantilah dengan cara penguatan yang lain, seperti pujian/penghargaan, perhatian atau pemenuhan kebutuhan yang memang bermanfaat dan bersifat edukatif untuk dirinya. Lalu, M yang ketiga adalah menghina atau merendahkan anak. Tak jarang orangtua, demi memacu semangat anak belajar, membanding prestasi anaknya dengan orang lain yang lebih sukses. Sepertinya cara ini sah-sah saja. Namun kalau kita mau sedikit "berempati", memposisikan diri kita di posisi anak, betapa kita merasa direndahkan, bahkan mungkin merasa dilecehkan, kemampuan kita ditaruh di bawah kemampuan orang lain. Ego anak, rasa aku anak, kebanggaan pada diri sendiri, dipaksa diletakkan di bawah ego orang lain. Sungguih sulit dibayang apa jadinya jiwa anak yang sering mengalami hal demikian. Lebih jauh, bila anak sering kurang dihargai dirinya, usahanya, perbuatannya, maka cepat atau lambat, akan tumbuh benih dalam jiwa anak ketidakmampuan dan ketidakmauan menerima kenyataan. Bila ini yang terjadi, maka anak bisa tumbuh menjadi anak yang brutal, tak mau diatur, atau sebaliknya menjadi anak yang inferior, minder, sangat apatis dan pesimis dalam hidupnya. Jadi, memacu semangat anak tak perlu disertai hinaaan, tetapi sebaliknya berilah dia harapan dan gambaran keberhasilan selaras dengan kemampuannya.
Kesimpulannya, dengan berkaca dari anekdote di atas, memotivasi anak, sebaiknya tak perlu melibatkan tiga m, memaksa, mengancam, dan menghina.